STAND UP COMEDY SATIRE INDONESIA

Stand Up Comedy Satire Indonesia
Oleh SUGENG WINARNO*)

Ada fenomena menarik mencermati perkembangan komedi di Indonesia. Kini di negeri ini sedang tumbuh kembang genre komedi baru yang di sebut Stand Up Comedy (SUC). Kepopuleran komedi jenis ini tidak terlepas dari upaya Kompas TV yang sejak awal turut “meledakkan” SUC melalui program bertajuk Stand Up Comedy Indonesia. Program ini sukses bahkan beberapa stasiun televisi lain juga memproduksi program serupa.
Di cafe-cafe, resto dan mall sekarang lagi tren menyajikan menu SUC yang memang didukung oleh menjamurnya komunitas SUC terutama yang tumbuh di kampus-kampus. Fenomena SUC yang kini terjadi memperlihatkan adanya pertumbuhan bentuk seni komedi yang lebih menarik, komedi yang menempatkan kecerdasan dan ketangkasan para pelakunya (komik) sebagai sebuah kekuatan penampilannya.
Kemunculan SUC sebenarnya bermula dari Inggris, namun dalam perjalananya justru berkembang di Amerika. Sebelum berkembang di Indonesia, SUC sudah lebih dulu tumbuh di beberapa negara seperti Australia, Jerman, Jepang, Thailand dan Singapura. SUC muncul di Indonesia tahun 1997 dibawa oleh Ramon Papana yang mendirikan “Canda Comedy Cafe”. Tahun 2005, Iwel Sastra tampil pertama kali di acara TV dengan mengusung komedi tunggal.
SUC di Indonesia ada yang menyebut sebagai komedi tunggal, komedi monolog atau komedi mandiri. Komedi jenis ini memang sangat simpel, tidak perlu orang banyak sebagai sebuah group. Peralatannya pun kebanyakan hanya berupa mikropon, dan penampilan komiknya tidak harus aneh-aneh seperti memasang kumis Caplin, memotong rambut ala Gogon atau memakai gelang batu akik di semua jari seperti yang sering dilakukan oleh Tessy di Srimulat.
Pada dasarnya, para pelawak Indonesia sejak dulu sudah menerapkan gaya melawak yang bisa dikategorikan sebagai SUC. Sebut saja dalam penampilan kelompok Srimulat, diantara ciri khas penampilannya, selalu ada bagian yang menampilkan sosok komedian tunggal yang sedang monolog yang biasa disebut “ngudarasa”. Legenda pelawak Indonesia seperti Basiyo dari Jogyakarta juga sering tampil dengan cara ngomong sendiri, ngrasani ketidakberesan yang terjadi di masyarakat dengan bahasa humor yang ringan. Demikian halnya yang dilakukan pelawak-pelawak dalam kesenian tradisional semacam ludruk, ketoprak, dan lenong.
Humor adalah salah satu bentuk permainan yang digemari banyak orang karena pada dasarnya manusia adalah homo ludens, makhluk yang gemar bermain. Humor juga mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia, yakni sebagai sarana hiburan dan pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia. James Dananjaja (1989) mengatakan bahwa di dalam masyarakat, humor baik yang bersifat erotis dan protes sosial berfungsi sebagai pelipur lara. Ini dikarenakan humor dapat menyalurkan ketegangan batin yang menyangkut kepentingan norma masyarakat yang dapat dikendurkan dengan tawa. Tawa akibat humor dapat memelihara keseimbangan jiwa dan kesatuan sosial masyarakat.
Humor memang bisa secara efektif digunakan dalam beragam konteks. Bila digunakan secara tepat, humor juga bisa menjadi solusi atas sebuah permasalahan yang pelik, penghilang ketegangan, media pencair perseteruan, juga yang tidak kalah pentingnya humor juga bisa berperan sebagai media kritik sosial politik. Banyak kritik politik pedas yang terlontar, namun tidak menimbulkan ketersinggungan pada orang yang dikritik karena balutan humor didalamnya.
Salah satu kelebihan kritik yang dilakukan dengan media humor adalah cara penyampaiannya yang satire. Satire adalah gaya bahasa untuk menyatakan sindiran kepada seseorang atau suatu keadaan. Bahasa satire inilah yang menjadikan kritik tajam tidak terasa pedas karena unsur komedi yang ada didalamnya. Melalui SUC, seorang komik bisa menertawakan dirinya sendiri dan lingkungan masyarakat. Para komik juga bisa mewakili kaum tertindas guna memprotes para politisi yang menyelewengkan amanah rakyatnya.
Beragam bentuk kritik satire banyak kita jumpai di media, sebut saja di media cetak yang menampilkan karikatur, juga kolom kecil yang berisi komentar-komentar kritik tentang ketidakberesan di masyarakat. Dalam panggung hiburan kesenian-kesenian tradisional juga sering mengusung kritik satire. Dulu, ketika masa penjajahan Jepang, salah seorang seniman ludruk di Jawa Timur ditembak Jepang gara-gara kritik dalam kidungannya. Adalah Cak Durasim yang waktu itu bagian dari syair kidungannya berbunyi “Pagupon Omahe Doro, Melu Nippon Iku Sengsoro” yang artinya pagupon rumah burung dara, ikut Jepang membuat kehidupan jadi sengsara.
Humor bisa lebih mudah diterima banyak orang, bisa masuk dalam beragam perbedaan etnis, suku, agama, ras, dan status sosial. Seperti halnya musik, humor adalah bahasa yang universal, bisa menjadi media interaksi di kalangan masyarakat. Melalui humor, orang bisa menertawakan diri sendiri, menyindir orang lain, menyentil para penguasa yang korup, mengolok para publik figur yang tidak bisa lagi diteladani, dan menertawakan para wakil rakyat yang berperilaku menyimpang yang terkadang mengundang tawa yang luar biasa.
Humor dalam beragam bentuknya muncul sebagai bentuk pemberontakan akan ketidakadilan yang sedang terjadi. Seorang komedian dunia, Phyllis Diller menyatakan “If everything goes well, you have nothing funny!”. Kemunculan humor bisa digunakan sebagai tolok ukur ketidakberesan yang sedang terjadi dalam masyarakat. Humor bisa hadir sebagai bentuk media kritik, perlawanan dan katarsis masyarakat yang sedang tertindas dan mendapat perlakuan yang tidak adil.
Melihat SUC sebenarnya menyaksikan potret yang sebenarnya sedang terjadi di masyarakat. Kalau yang muncul banyak kritik politik, itu bisa dimaknai memang kehidupan politik kita yang memang sedang berada dalam kondisi yang jauh dari ideal. Kehadiran SUC bisa dipakai sebagai media kritik alternatif yang konstruktif. Kebuntuan saluran-saluran kritik yang ada bisa mencair dengan munculnya komedi cerdas ala SUC. Perlu kedewasaan orang yang dikritik, termasuk yang mengkritik agar keseimbangan bisa dicapai.

*) SUGENG WINARNO, S.Sos, MA.Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM, pelaku stand up comedy.
+ Tulisan ini pernah dikirim untuk harian Kompas.

Random Posts

Loading…

About sugengwin

S1 Ilmu Komunikasi FISIP UMM S2 Media and Information, Curtin University of Technology, Australia
This entry was posted in Tulisan Saya di Media. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Garb (1.5)