STOP TV JUNKIES


Stop TV Junkies
Oleh SUGENG WINARNO *

Tanggal 21/11 dicanankan PBB sebagai hari televisi sedunia. Keputusan ini dinilai penting mengingat televisi telah memainkan peran besar dalam penyebaran informasi di seluruh dunia.
Bagi Indonesia, kehadiran media audio visual ini telah membawa perubahan yang cukup berarti. Televisi hadir di ruang-ruang keluarga Indonesia mengusung informasi, edukasi, dan hiburan. Tidak sedikit penduduk negeri ini menjadikan televisi sebagai media utama, sumber rujukan dalam berbagai hal.
Walaupun televisi menyimpan potensi besar sebagai sumber informasi dan pengetahuan, namun masih banyak diantara kita yang memfungsikan televisi hanya sebagai media hiburan belaka. Kondisi ini semakin diperburuk dengan pengelola stasiun televisi yang terlampau banyak menyajikan program yang menonjolkan unsur entertainment ketimbang muatan edukasi dan informasinya.

Wabah TV Junkies
TV junkies artinya kecanduan nonton televisi. Televisi memang seperti candu, bisa bikin orang ketagihan dan sulit lepas dari televisi.. Apapun namanya, segala yang membuat orang ketagihan biasanya akan berdampak buruk. Orang menilai kalau kecanduan narkoba itu sangat berbahaya, sesungguhnya kecanduan nonton televisi pun bisa berakibat lebih parah.
Banyak penonton potensial yakni ibu-ibu dan anak-anak yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi. Film dalam beragam genre, sinetron, kartun, aneka kuis, infotainment, reality show, variety show, musik, komedi, fashion dan kuliner banyak digemari penonton. Anak-anak menonton sekitar 30-35 jam/minggu atau 1560-1820 jam/ tahun. Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar di sekolah dasar yang tidak sampai 1000 jam/tahun.
Tidak semua acara TV aman terutama untuk anak. Penulis mencatat acara untuk anak yang aman hanya sekitar 15% saja. Oleh karena itu harus betul-betul diseleksi. Saat ini jumlah acara TV untuk anak usia prasekolah dan sekolah dasar perminggu sekitar 80 judul ditayangkan dalam 300 kali penayangan selama 170 jam. Padahal dalam seminggu ada 24 jam x 7 = 168 jam. Jadi, selain sudah sangat berlebihan, acara untuk anak juga banyak yang tidak aman.
Setidaknya ada 3 hal penting yang perlu disimak dalam menelaah interaksi antara anak dengan televisi: Pertama, intervensi media terhadap kehidupan anak akan makin bertambah besar dengan intensitas yang semakin tinggi. Pada saat budaya baca belum terbentuk, budaya menonton televisi sudah sangat kuat.
Kedua, kehadiran orangtua dalam mendampingi kehidupan anak sehari-hari akan semakin berkurang akibat pola hidup masyarakat modern yang menuntut aktivitas di luar rumah.
Ketiga, persaingan bisnis yang makin ketat antar media dalam merebut perhatian khalayak termasuk anak-anak telah mengabaikan tanggungjawab sosial, moral, dan etika, serta pelanggaran hak-hak konsumen. Hal ini diperparah dengan sangat lemahnya regulasi di bidang penyiaran.

Media Literacy TV
Jika media massa sebelum berkembang pesat seperti dewasa ini, yang diperlukan oleh masyarakat adalah cukup hanya melek huruf (literate). Kemampuan ini memungkinkan masyarakat terampil membaca dan menulis. Berkembangnya abad media sekarang ini, kemampuan itu sudah tidak lagi memadai dan harus dilengkapi dengan melek yang lain, yaitu melek media (media literacy).
Sebagai dampak dari kecanduan televisi adalah telah terjadinya the decline of literacy. Terpaan dan pengenaan yang terus-menerus oleh televisi dapat menanamkan kepasifan pada diri khalayak. Agar terlepas dari kondisi ini, maka konsumen media harus berdaya, harus melek media televisi.
James Potter, dalam bukunya yang berjudul “Media Literacy” (Potter, 2001), mengatakan bahwa media Literacy adalah sebuah perspekif yang digunakan secara aktif ketika individu mengakses media dengan tujuan untuk memaknai pesan yang disampaikan oleh media.
Gerakan melek media muncul sebagai bentuk kekhawatiran akan pengaruh media yang lebih berdampak buruk bagi masyarakat. Di samping itu dengan kemampuan melek media masyarakat maka kekuatan pemilik dan pelaku media bisa lebih di kontrol. Sehingga kekuatan antara media dengan masyarakat konsumen media bisa berimbang, tidak ada yang lebih dominan.
Skill menonton televisi dinilai sangat penting dimana dengan keterampilan yang dimaksud memungkinkan seseorang untuk bisa memperbedakan di antara serangkaian unsur-unsur program yang luas sehingga mereka dapat membuat alasan yang masuk akal ketika menonton sebuah acara televisi.
Ada beberapa prinsip yang harus dipahami agar pemahaman terhadap melek media televisi dapat lebih komprehensif. Penonton televisi harus sadar bahwa isi tayangan televisi merupakan hasil konstruksi dan televisi merepresentasikan konstruksi realitas. Bahwa konstruksi televisi mempunyai tujuan komersial, isi pesan media mempunyai muatan nilai dan ideologi. Di samping itu isi televisi tidak terlepas dari muatan sosial dan politik.
Di banyak negara maju, pendidikan melek media sudah menjadi agenda yang penting dengan memasukkannya ke dalam satuan kurikulum pendidikan. Inggris, Jerman, Kanada, Perancis, dan Australia merupakan contoh negara yang telah melaksanakan pendidikan melek media di sekolah.
Pendidikan melek media yang ada di Indonesia, masih sebatas gerakan-gerakan yang belum terstruktur. Gerakan-gerakan tersebut dilakukan melalui seminar, roadshow, dan kampanye-kampanye mengenai melek media. Melek media tidak cukup bila disampaikan hanya dalam seminar berdurasi dua jam, atau dalam kampanye selama seminggu. Akibatnya, upaya-upaya memperjuangkan pendidikan melek media belum dapat dirasakan oleh semua pihak secara luas.
Secara kongrit upaya yang bisa dilakukan masyarakat adalah mematikan televisi atau tidak menonton acara-acara yang buruk. Ini merupakan cara jitu agar tayangan-tayangan berkualitas jelek akan mati dengan sendirinya. Karena ketika sebuah acara sudah tidak lagi ada penontonnya, maka acara tersebut akan sulit dijual kepada pemasang iklan. Ketika sebuah acara sepi pengiklan maka kelangsungan hidup acara tersebut pasti tidak akan bertahan lama.

*) SUGENG WINARNO, S.Sos, MA. Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM
+ Tulisan ini pernah di muat di harian Jawa Pos, 21/11/2011

Random Posts

Loading…

About sugengwin

S1 Ilmu Komunikasi FISIP UMM S2 Media and Information, Curtin University of Technology, Australia
This entry was posted in Tulisan Saya di Media. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Garb (1.5)