SULITNYA BLOKIR SITUS PORNO


Sulitnya Blokir Situs Porno
Oleh SUGENG WINARNO *

Indonesia menduduki peringkat 1 dunia pengakses situs porno. Tentunya ini bukanlah prestasi yang membanggakan. Setelah beberapa bulan lalu Menkominfo menyatakan telah berhasil menutup sekitar 1 juta situs porno, kini, tepatnya akhir bulan lalu justru kita dicengangkan dengan kenyataan memalukan yang menempatkan Indonesia berada di posisi teratas pengkonsumsi ciber pornografi.
Menyikapi kondisi ini Presiden telah membentuk gugus tugas pencegahan dan penanganan pornografi. Pembentukan gugus tugas ini ditandai dengan terbitnya Perpres No 25 Tahun 2012 pada 2 Maret 2012. Perpres tersebut mengacu pada pasal 42 Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi yang mengamanatkan dibentuknya gugus tugas.
Walaupun pembentukan satgas ini menimbulkan pro dan kontra karena ada yang menilai hal ini hanya pengalihan isu belaka, namun yang jelas masalah pornografi memang telah menjadi keresahan banyak pihak. Menyikapi kondisi ini tertunya perlu solusi bijak guna meminimalisir merebaknya akses pada konten mesum ini.

Bisnis Pornografi
Pornografi di internet memang telah menjadi sebuah industri dengan skala bisnis yang besar. Achmad Desmon (2005) mencatat pada kurun waktu tahun 2005 saja perputaran uang di situs-situs porno mencapai 40 persen dari keseluruhan jumlah transaksi bisnis di internet. Ribuan orang menggantungkan hidupnya pada bisnis ini. Secara tidak langsung banyak orang dari segala penjuru dunia ikut kebagian menikmati bisnis ini. Umumnya industri pornografi ini merupakan perusahaan publik adult entertainment yang menjual sahamnya berbentuk blue chip. Saham jenis ini biasanya laku keras diburu orang di seluruh dunia termasuk investor Indonesia.
Fakta menunjukkan bahwa pengelola situs porno jumlahnya sangat banyak. Pornografi memang telah menjadi industri, industri yang menyediakan berlimpah keuntungan bagi pengelolanya. Menurut laporan Family Save Media tahun 2006, di Amerika Serikat industri pornografi menghasilhan 57 billion dollar Amerika pertahun. Sementara jumlah terbanyak pengakses situs porno adalah remaja antara usia 12 sampai 17 tahun. Menurut American Demographic Magazine pada tahun 2000 jumlah situs porno yang menyediakan layanan secara gratis mencapai angka 500.000 situs. Pada kurun waktu yang sama terdapat lebih dari 3.900 situs baru yang muncul setiap hari dan 85 persen dari angka itu adalah situs-situs dewasa.
Mayoritas situs penyedia pornografi memang dari Amerika. Kondisi ini bukan berarti bagi Indonesia cukup aman, karena internet adalah media yang tidak memandang batasan wilayah geografis. Pornografi yang difasilitasi internet ini memang berbeda dengan pornografi dalam dunia nyata seperti pada tempat-tempat hiburan malam dan rumah prostitusi. Yang jelas pornografi melalui internet bisa dinikmati dengan lebih mudah dan murah. Bagaimana tidak, untuk bisa akses internet cukup datang ke warnet dengan harga Rp. 3.000,- per jam. Akses internet lewat free hotspot juga dapat dengan mudah didapatkan. Beragam gadget canggih sekarang juga semakin memudahkan orang menikmati pornografi secara lebih privat dan leluasa.

Semakin banyak pengguna internet (netter) yang membuka situs-situs porno, maka pemilik situs tersebut akan mendapat banyak keuntungan. Beragam cara ditempuh para penyedia situs porno baik dengan sengaja maupun mengelabui netter agar kesasar masuk ke kawasan underground ini. Beragam key words porno dimasukkan dalam search engine Google atau Yahoo. Terkadang kata yang jauh dari istilah pornografi pun bisa berujung pada sajian gambar-gambar dan video porno. Situs penyedia file video semacam Youtube pun tidak steril dari materi yang berbau pornografi.

Internet Sehat
Dampak negatif cyberporn telah terbukti. Sangat mengkhawatirkan terutama bagi anak-anak dan remaja. Sebuah survey yang pernah dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak (KPA) terhadap 4.500 siswa di 12 kota besar di Indonesia menunjukkan data bahwa 97 persen dari responden pelajar SMP dan SMA pernah mengakses situs porno. Sementara berdasarkan riset Symantec, sebuah perusahaan keamanan internet melaporkan bahwa 96 persen anak di Indonesia punya pengalaman buruk terhadap konten negatif di internet. Symantec juga mencatat rata-rata anak Indonesia online 64 jam sebulan, sementara hanya satu dibanding tiga orang tua yang care terhadap konten-konten yang diakses anak-anaknya.
Memang ada beberapa solusi yang telah dilakukan pemerintah melalui UU Pornografi, UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), serta pemblokiran dengan cara filtering. Namun pada prakteknya beberapa upaya tersebut belum membuahkan hasil maksimal. Harus diakui memblokir situs-situr porno di internet memang sulit. Namun perlu diupayakan terus menerus solusi guna memecahkan masalah ini.
Pertama, pemerintah harus terus meningkatkan pendidikan untuk menciptakan kesadaran di masyarakat agar muncul perlawanan yang menentang segala tindakan yang dapat merugikan termasuk penyebaran pornografi. Pemerintah juga bisa secara periodik melakukan internet protection campaign, yang berupa penayangan iklan di media internet, televisi, cetak dan radio.
Kedua, terus melakukan proteksi dengan menggunakan filtering software. Upaya pemblokiran lewat software ini bisa dilakukan dengan sistem keyword blocking, site blocking dan web rating system. Melalui cara ini memang bisa memblokir melalui beberapa kata kunci porno atau memblokir alamat webside tertentu. Banyak software dipasaran yang bisa melakukan pemblokiran ini misalnya Net Nanny, Cyber Patrol dan Spector Pro v5.
Beberapa fakta menunjukkan bahwa software pemblokir tidak bisa bekerja maksimal. Perlu cara pemblokiran sampai pada tahap melihat content dari semua website yang ada. Upaya ini harus dilakukan secara intensif dan berkesinambungan mengingat frekuensi munculnya situs-situs baru juga sangat tinggi. Sehingga setiap situs baru yang muncul, harus dipantau isinya, termasuk dengan tetap memantau situs-situs yang sudah ada sebelumnya.
Ketiga, usaha pemblokiran yang mungkin dapat dilakukan adalah melalui Internet Service Provider (ISP). Cara pemblokiran ini dengan mengandalkan kemampuan filtering software pada tingkat provider. Keberhasilan cara ini sangat bergantung pada kualitas software dan kemauan baik dari semua pengelola provider internet. Seperti diketahui, jumlah provider internet di Indonesia jumlahnya tidak sedikit.
Keempat, parental kontrol oleh keluarga agar terwujud internet sehat. Bisa dilakukan dengan pendidikan agama dan moral yang bagus. Pemahaman tentang bahaya buruk internet harus juga ditanamkan kepada seluruh anggota keluarga, serta pendampingan dan pembimbingan ketika akses internet.
Kemauan baik pemerintah memberantas pornografi perlu dukungan masyarakat, pribadi, para pelaku bisnis industri pornografi dan para hacker. Kalau memang dirasa sangat sulit memberangus situs-situs porno itu, setidaknya kita bersama sudah berusaha meminimalisirnya. Kita semua memang tidak bisa mengelak dari teknologi internet, tetapi kita senantiasa berusaha agar mampu menghindar dari sisi gelapnya.

*) Sugeng Winarno, S.Sos, MA. Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.
+ Tulisan ini pernah dikirim untuk harian Jawa Pos.

Random Posts

Loading…

About sugengwin

S1 Ilmu Komunikasi FISIP UMM S2 Media and Information, Curtin University of Technology, Australia
This entry was posted in Tulisan Saya di Media. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Garb (1.5)