“OMAR” Film Islami yang Digarap Serius

“OMAR” Film Islami yang Digarap Serius *)
Oleh Sugeng Winarno **)

Ada yang beda dalam tayangan Ramadan di MNC TV tahun ini. Kalau hampir semua stasiun tv menyajikan acara komedi slapstick sebagai menu utama, MNC TV menayangkan sesuatu yang baru. Sesuatu itu adalah film keteladanan yang berjudul Omar (Umar Bin Khattab).

Film ini menceritakan revolusi pertama yang merubah wajah Timur Tengah. Film yang berlatarbelakang masyarakat Mekkah pada abad ke 7 ini dibuat di Morocco dan Syiria. Film yang sarat pesan ini menggambarkan kondisi Mekkah dengan sangat baik, kondisi psikologi masyarakat, bentuk kultur yang ada dan kondisi lingkungan kota Mekkah.

Film ini nampak tidak dikerjakan asal-asalan, namun digarap dengan sangat serius. Film ini ditulis oleh Dr. Waleed Saif dan diproduksi oleh 03 Production dan Midle East Broadcasting Centre (MBC) Dubai. Dengan sinematografi yang baik dan kualitas gambar yang bagus menjadikan film ini enak ditonton. Tidak sekedar menjadi tontonan yang hanya menghibur tetapi sarat pesan-pesan ketauladanan.

Pada episode pertama misalnya, menceritakan bagaimana perjalanan Umar Bin Khattab mengenal Tuhan. Dalam episode ini juga digambarkan bagaimana Umar menolak keras ajakan temannya untuk bisnis secara tidak jujur. Umar adalah pribadi yang tidak banyak bicara, namun setiap perkataannya mengandung pesan dan ketegasan.
Film yang dibuat sebanyak 31 episode ini kiranya bisa menjadi alternatif tontonan terutama bagi kaum muslim yang ingin menambah wawasan tentang sejarah Islam dan mengenal tokoh tauladan islam.

Film Omar ini memang film produksi terbesar yang pernah dibuat di Arab. Film ini melibatkan ratusan aktor dan aktris dari 10 negara. Shooting dan post productionnya selama 322 hari [/=10 bulan, 18 hari,/=46 minggu, /=7.728 jam,/=463.680 menit,/=27.820.800 detik].

Crew yang terlibat sebanyak 229 orang, aktor dan aktris sejumlah 322 dari 10 negara. Perlu dibangun 29 rumah di Mekkah di atas tanah seluas 5000 M persegi. 89 rumah di Marakesh di bangun di atas tanah 12.000 meter persegi.

Properti yang diperlukan berupa: 1,970 pedang, 650 tombak, 1.050 tameng, 4.000 anak panah, 400 panahan, 15 drum, 137 patung, 1.600 tanah liat, 10.000 koin, 7.550 sendal dan 170 baju perang. Untuk membuat baju dibutuhkan 14.200 meter kain, dengan jumlah penjahit sebanyak 39 orang.

Ini memang film kolosal, film yang dikerjakan dengan quality oriented oleh para ahli dibidangnya. Film ini sepertinya juga sebagai bukti bahwa umat islam juga bisa memproduksi film-film islami dengan garapan yang serius hingga diperoleh hasil yang memuaskan.

Dalam perjalanan film ini memang sempat menimbulkan protes di Arab. Menurut beberapa kalangan penggambaran wajah sahabat nabi memang tidak diperkenankan. Meski penggambaran secara visual tidak secara eksplisit disebut dilarang dalam Alquran, para ulama Al-Azhar telah mengeluarkan fatwa bahwa penggambaran Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dilarang. Pusat Penelitian Hukum Kerajaan Arab Saudi, Dar Al-Ifta, juga mengeluarkan fatwa serupa.

Di jejaring sosial Facebook, ribuan orang memprotes dan meminta serial itu dihentikan. “Ini memalukan”, begitulah tanggapan para pemilik akun. Sementara, juru bicara MBC mengatakan serial itu telah mendapat dukungan dari beberapa ulama terkemuka. Itu termasuk ulama terkemuka asal Mesir, Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi.

Dipihak lain, sejumlah profesor berpendapat penggambaran sahabat nabi tidak dilarang. Penggambaran itu selalu menjadi kontroversi. ”Namun, hal tersebut terjadi kalau dalam isi serial itu ada hasutan kebencian dan suasana permusuhan atau konflik,” ungkap Profesor Hukum Islam Universitas Al-Qassim, Khaled Al-Musleh.

Musleh berpendapat ketimbang memprotes atau melarang penggambaran sahabat nabi, lebih baik membuat ukuran yang disepakati bagaimana sebaiknya penggambaran itu. “Aturan ketat harus diterapkan itu pasti. Dengan demikian, penonton diberikan informasi dan penggambaran yang tepat,” kata dia. Sanaa Hashem, Asossiate Profesor Institute Film Kairo, mengatakan Islam tidak melarang penggambaran selain nabi. “Itu penting guna mendorong terbangunnya dialog terkait tokoh dan cerita sejarah dibaliknya,” papar dia.

Dari kontroversi yang terjadi, seperti juga film-film lain yang jadi kontroversi di masyarakat (misal, film berjudul [?], Hanung Bramantyo) justru bisa menjadi alat promosi yang ampuh. Banyak orang justru penasaran dan mencari dan menontonnya. Terlepas dari apakah kontroversi yang terjadi itu by design atau fakta, kehadiran film ini memang cukup penting diapresiasi.

MNC TV menayangkan film ini tiap hari sejak awal Ramadan mulai pukul 3.45 habis waktu sahur. Pemilihan waktu ini memang cukup disayangkan, karena ini merupakan waktu menjalankan ibadah sholat subuh. Hal ini membuat penonton dihadapkan pada pilihan sulit antara mengerjakan sholat subuh tepat waktu atau kehilangan runtutan cerita yang sedang disaksikan.

NB: Ingin tau bedah film ini?
Ikuti bedah film “Omar”. Sabtu, 11 Agustus 2012 di Teather
Baseman Dome UMM.

*) Disarikan dari berbagai sumber
**) Dosen Ilmu Komunikasi UMM.

Random Posts

Loading…

About sugengwin

S1 Ilmu Komunikasi FISIP UMM S2 Media and Information, Curtin University of Technology, Australia
This entry was posted in Film & Television. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Garb (1.5)