UMM Bedah Film “Omar”

UMM Bedah Film “Omar”

Film serial fenomenal “Omar” yang ditayangkan di stasiun televisi swasta nasional MNC TV setiap pagi dibedah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (11/8). Film yang menceritakan ketokohan Khalifah Umar bin Khattab ini berhasil menarik perhatian pemirsa sehingga menempati rating tertinggi pada jam tayangnya.

Sebelum didiskusikan oleh empat narasumber beberapa episode ditayangkan di dua tempat sekaligus, di ruang teater dan ruang arena UMM Dome. Diskusi berlangsung di ruang teater yang dihadiri 250 peserta, sedangkan di ruang arena diputar di depan 1.500 peserta Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.

Keempat nara sumber itu adalah Sekretaris Jurusan Komunikasi UMM, Sugeng Winarno, pengamat film Arfan Adhi Perdana danustadz Syaikh Fikri Thoriq Alkhatiri. Dari pihak MNCTV, diwakili direktur program dan produksi Endah Hari Utari.
“Bagi saya Umar merupakan figur yang merubah Islam di jamannya, dan banyak memberikan teladan yang baik ke depan, bahkan relevan dengan keadaan kita sekarang,” ungkap Endah Hari Utari tentang dipilihnya film yang ditayangkan stasiun tv nya itu.

“Siapa yang tidak mengenal sosok Umar Bin Khattab,” lanjut Endah, Dia adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al-Quran dan as-Sunnah setelah Abu Bakar As Siddiq.

Sugeng mengungkapkan, film ini bias menjadi media dakwah yang efektif, terutama menyindir kepemimpinan saat ini. Masyarakat jadi tahu dan gampang tergugah melalui film ini. “Penggambaran sosok Umar yang berwibawa, bersahaja, kepemimpinannya kuat, dan memiliki prinsip yang kokoh sangat tepat digambarkan dalam film ini,” kata Sugeng.

Hal senada diungkapkan Arfan. Alumni Komunikasi UMM ini setuju jika film ini luar biasa dan layak dipuji. “Pesan Islam bias lebih mengena melalui film,” katanya.
Pengalaman Fikri yang menonton film ini lebih awal membuatnya terenyuh. Adegan wafatnya Rosulullah sempat membuatnya ikut menangis. Begitupun ketika Umar mengantarkan sendiri karung gandum untuk warga miskin yang membutuhkannya. “Ini tauladan yang tiada duanya,” kata ustadz yang selalu membuka dan menutup film yang diproduksi di Dubai itu.

Selain nonton bersama, para perserta kegiatan ini diajak juga untuk kritis menilai film tersebut. Tim acara memang sengaja memberikan kesempatan untuk penonton memberikan kritik untuk dilombakan dan diberi hadiah. Tidak mengherankan selain mendapatkan hiburan, para penonton juga mendapatkan informasi positif mengenai berbagai hal, baik dari sisi sinematografi, komunikasi, maupun dari sisi agama.

“Saya berharap masyarakat nantinya dapat mengambil teladan dari Omar dan menambah keimanan kepada Allah dan Rosulnya,” tambah `Endah. (uci/nas).

http://www.umm.ac.id/id/umm-news-3001-umm-bedah-film-“omar”.html

Random Posts

Loading…

About sugengwin

S1 Ilmu Komunikasi FISIP UMM S2 Media and Information, Curtin University of Technology, Australia
This entry was posted in Film & Television. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Garb (1.5)