Mahasiswa Dan Obsesi Kecendekiaan

Mahasiswa Dan Obsesi Kecendekiaan
Oleh SUGENG WINARNO *)

Seluruh penguruan tinggi saat ini sedang sibuk menyambut kedatangan mahasiswa baru. Beragam acara tengah digelar oleh para pengelola kampus dan para senior mahasiswa. Semua acara dikemas guna memberi warna selamat datang bagi para mahasiswa baru.
“Selamat datang mahasiswa baru, kaum cendikia muda, agen pembaharu penerus perjuangan reformasi, selamat memasuki atmosfir baru, dunia kampus yang mencerahkan.” Demikian beberapa pesan yang terpampang di spanduk dan baliho di beberapa sudut kampus dari berbagai perguruan tinggi.
Secara umum animo siswa untuk studi di perguruan tinggi dari tahun ke tahun semakin menunjukkan peningkatan. Saat ini orientasi siswa tidak hanya ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) saja, namun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) juga semakin kawalahan menampung calon mahasiswa. Perubahan orientasi ini karena banyak PTS yang memang berkualitas, tidak kalah dengan PTN.
Minat melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi ini menunjukkan bahwa status sebagai mahasiswa masih didambakan. Status siswa yang berada pada posisi “maha” atau tertinggi ini masih merupakan status yang keren sekaligus strategis. Hal ini tidak terlepas dari nama dan peran besar mahasiswa yang telah berjasa dalam menggulirkan reformasi di negeri ini.
Status mahasiswa menempati posisi terhormat, sebagai calon pemimpin bangsa di masa datang. Tetapi harus disadari bahwa peran mahasiswa tidaklah ringan. Mahasiswa juga harus bisa selalu menjaga citra diri dan sikapnya. Sehingga hendaknya malu kalau ada mahasiswa suka tawuran atau melakukan tindakan yang tidak mencerminkan perilaku seorang cendikia.
Mahasiswa bukan hanya ditandai dengan beraneka ragam barang yang bermerek kampus. Mahasiswa di kampus bukan hanya berhura-hura tanpa makna, mejeng dan nongkrong-nongkrong mencuci mata. Predikat mahasiswa bukan saja untuk bangga-banggaan dan gagah-gagahan semata.
Realitas saat ini menunjukkan telah terjadi degradasi peran mahasiswa. Masih sering kita dengar maraknya kehidupan mahasiswa yang berbau borjuistik, pesta, dan aktivitas yang cenderung rekreatif semata. Padahal aktivitas semacam ini jelas tidak akan memberikan kontribusi yang positif bagi dinamika kehidupan mahasiswa.
Ingat, mahasiswa menempati posisi stategis sebagai calon cendikia yang harus kritis dalam menganalisis suatu fenomena yang sedang berkembang. Mahasiswa juga harus selalu responsif terhadap proses sosial politik yang sedang berlangsung di negeri ini.
Mahasiswa mempunyai peran sebagai agen perubahan sosial. Karena itu mahasiswa dituntut mampu mengenal diri dan lingkungannya dengan segala antisipasi terarah pada masyarakat sekitarnya. Sangat ironis apabila mahasiswa yang menghadapi fenomena kemasyarakatan tidak menyikapinya dengan arif dan penuh daya intelektual yang objektif.
Mahasiswa tidak hanya dituntut sebagai kutu buku, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah untuk dapat senantiasa memahami setiap kondisi lingkungannya. Artinya peka terhadap persoalan-persoalan yang muncul di luar dirinya. Tuntutan ini memang tidak ringan, justru disinilah letak hakekat siswa yang sudah mencapai taraf maha.
Mahasiswa juga telah mendapat julukan sebagai cendikia muda. Artinya status mahasiswa itu hendaknya lekat dengan sikap kecendekiaan. Tradisi kecendikiaan seperti berfikir, belajar berdiskusi, berorganisasi, meneliti dan melakukan pengabdian kepada masyarakat harus menjadi obsesi setiap mahasiswa.
Menerjemahkan kecendikiaan tidak hanya cukup diartikan sebagai penggunaan rasio akal sehat sebagai kemampuan menganalisis saja, tetapi harus sampai para taraf berbuat untuk memecahkan masalah. Mahasiswa dituntut tidak hanya pandai berteori semata, namun yang lebih penting adalah mampu terjun menghasilkan karya nyata.
Salah satu wujud kecendikiaan mahasiswa dapat ditunjukkan dalam merespon beragam persoalan yang sedang terjadi di masyarakat. Untuk menumbuhkan rasa kepekaan ini, maka mahasiswa harus mempunyai idealisme. Mahasiswa harus mampu berfikir secara idealis dan tidak terjebak pada pragmatisme.
Secara psikologis, mahasiswa memang masih berada pada posisi transformasi, fase antara remaja dan dewasa. Dalam kondisi ini, mahasiswa merupakan sosok yang sedang berproses, mencari jati diri. Dalam posisi ini idealnya kampus merupakan sarana representatif untuk berproses. Sehingga transformasi cultural dari sosok seorang yang sebelumnya pragmatis menuju figur seorang idealis dapat berlangsung secara optimal.
Melalui beragam organisasi intra kampus seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Senat Mahasiswa Fakultas (SEFA), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dapat digunakan mahasiswa guna menempa dirinya dalam berorganisasi, menanamkan idealisme dan jiwa kecendikiaannya. Di samping itu organisasi extra kampus semacam HMI, IMM, PMII, GMNI dan yang lainnya juga mampu memberi sumbangan bagi kedewasaan mahasiswa dalam berfikir dan mencermati fenomena yang sedang terjadi.
Namun hal penting yang juga patut dicatat adalah menjaga keseimbangan antara aktivitas berorganisasi dan belajar harus tetap terjaga. Bagaimanapun tugas utama mahasiswa, seperti harapan kebanyakan orang tua adalah anaknya bisa lulus dan menjadi orang yang sukses. Untuk itu kegiatan belajar dan berorganisasi harus berjalan dengan seimbang, tanpa ada yang harus dikorbankan.
Tugas belajar di perguruan tinggi beda dengan masa sekolah menengah. Banyak kegiatan belajar bersifat self study, yang menuntut kemandirian dari para mahasiswa. Tuntutan kemandirian menjadi sangat tinggi dan lebih komprehensif dalam memahami keilmuan yang sedang ditekuninya. Bukan hanya pada konsep semata, tetapi segala sisi dari satu bahasan keilmuan yang ditekuninya.
Berawal dari sini sosok mahasiswa akan semakin tajam mengasah sikap kecendikiaannya. Kemandirian bukan saja diartikan lepas dari orang tua secara fisik dan ekonomi, tetapi kemandirian diwujudkan dalam keberanian dari sisi intelektualitas.
Dasar agama yang kuat juga menjadi esensi yang memungkinkan seorang mahasiswa memiliki kesiapan mental ketika menemui beragam kesulitan dan hambatan. Tanpa kesiapan mental yang baik, mahasiswa akan mudah mengalami frustrasi dan akhirnya menjadi putus asa.
Guna mewujudkan obsesi sebagai cendikiawan muda, maka mahasiswa harus mempunyai sikap untuk mengembangkan dirinya agar sukses. Sikap pengembangan diri dapat dilakukan dengan motivasi belajar, percaya diri, kreativitas dan aktivitas, serta keuletan terhadap apa yang dicita-citakan.
Akhirnya, selamat datang mahasiswa baru, para cendikia muda yang penuh obsesi. Jadilah kaum pembaharu dan generasi penerus bangsa yang akan membawa perubahan yang berarti bagi perbaikan dan kemajuan negeri ini.

*) SUGENG WINARNO, MA. Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.
**) Artikel ini pernah ditulis untuk koran Sindo, 6/9/2012

Random Posts

Loading…

About sugengwin

S1 Ilmu Komunikasi FISIP UMM S2 Media and Information, Curtin University of Technology, Australia
This entry was posted in Tulisan Saya di Media. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>