Mencari Kemilau TVRI di Tahun Emas

Mencari Kemilau TVRI di Tahun Emas

Oleh SUGENG WINARNO *)

TANGGAL 24 Agustus hari ini diperingati sebagai hari jadi Televisi Republik Indonesia (TVRI). Peringatan tahun ini serasa spesial karena saat ini TVRI telah berusia 50 tahun. Ini adalah tahun emas buat media penyiaran yang sejak 2006 menjalankan peran sebagai lembaga penyiaran publik itu. Peran ideal penyiaran publik ini belum bisa optimal karena tingkat kepemirsaan TVRI masih rendah.

TVRI memang berada pada situasi yang cukup sulit. Bagaimana tidak, gempuran puluhan televisi swasta nasional seakan semakin melupakan pemirsa kepada TVRI. TVRI saat ini memang telah banyak berbenah. Namun, perubahan itu belum cukup berarti. Walaupun sudah berancang-ancang berformat digital, sajian program-programnya masih belum bisa menyita perhatian pemirsa.

Seperti dijelaskan dalam UU Penyiaran bahwa status TVRI, seperti halnya RRI, adalah sebagai lembaga penyiaran publik. Sementara itu, stasiun televisi lain berstatus televisi swasta komersial dan sebagian kecilnya adalah media komunitas. Sebagai lembaga penyiaran publik, TVRI memang harus tampil berbeda; kontennya tidak ikut-ikutan hura-hura televisi swasta.

Esensi lembaga penyiaran publik yang utama terletak pada pelayanan kebutuhan publik. Sajian acara-acara TVRI mestinya lebih mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan publik. TVRI harus bisa memotret apa-apa yang menjadi kebutuhan publik. Tidak hanya menyajikan apa saja agar publik menganggap segala yang disajikan di layar televisi itu seakan menjadi kebutuhannya.

Karena Kehendak Media

Media massa, termasuk televisi, memang turut mengubah cara pandang dan pola hidup masyarakat. Selain menebarkan kebajikan, lewat televisi terbangun pula masyarakat yang konsumtif dan hedonis kapitalistis. Televisi banyak menyajikan acara yang memvisualisasikan budaya impor yang lebih mengusung keglamoran dalam budaya populer yang atraktif.

Dalam perspektif media sebagai industri bahwa budaya populer lahir atas kehendak media (Sunarti, 2003). Televisi telah memproduksi beragam jenis budaya populer yang berasal dari budaya impor dan budaya populer sehingga masyarakat tanpa menyadari telah menyerapnya. Media televisi sebagai industri budaya tidak segan-segan melakukan penyerangan lewat tayangan yang telah direkonstruksi sedemikian rupa sehingga membuat kecanduan pemirsa.

Televisi dalam menjalankan fungsinya, selain sebagai penyebar informasi, pendidikan, dan hiburan, merupakan institusi pencipta dan pengendali pasar produk komoditas. Melalui acaranya, televisi menanamkan ideologinya pada setiap produk sehingga objek sasaran terprovokasi propaganda yang tersembunyi di balik tayangannya itu. Akibatnya, barang yang diproduksi dan disebarluaskan oleh televisi akan diserap oleh publik sebagai suatu produk kebudayaan yang seolah ”mengenyangkan” jiwa raga.

Budaya populer yang dibawa televisi telah menggilas budaya lokal yang mengusung nilai kesopanan, digantikan dengan perilaku saru dan jiwa-jiwa materialistis serta hedonistis sebagai jati diri dari para pelaku budaya populer. Ya, kita bisa menunggu kesadaran dari pemilik dan pengelola media untuk bisa memperbaiki keadaan.

Kejenuhan pada Hedonisme

Banyak sudah keluhan terhadap acara televisi swasta. Tengok saja di website Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang hampir setiap hari mengeluarkan peringatan, teguran, dan sanksi kepada beberapa acara di televisi yang melanggar. Misalnya, saat Ramadan tahun ini, banyak acara komedi slapstick atau komedi kasar yang mendapat sanksi dari KPI. Hampir semua stasiun televisi swasta punya program komedi yang seragam, bahkan pemainnya juga orang-orang yang sama.

Selain itu, banyak tayangan televisi swasta nasional ”kaya” budaya hedonistis. Di sisi lain, banyak dikeluhkan para generasi muda kita yang tidak lagi mengenal dan mengetahui nilai-nilai luhur bangsanya. Degradasi rasa nasionalisme bangsa ini tidak bisa dimungkiri karena digerogoti oleh banyak siaran di media, termasuk televisi.

Pada situasi seperti ini, TVRI punya peluang. TVRI hadir dengan tagline saluran pemersatu bangsa, aman bagi keluarga Indonesia, ini cukup strategis mengambil peran. Melalui tayangan-tayangan yang bukan mengikuti tren televisi komersial, TVRI bisa memberikan warna lain yang lebih menekankan kepada kecintaan dan kebanggaan kepada bangsa sendiri.

Saat ini ada keluhan tentang kelunturan jati diri bangsa Indonesia akibat kuatnya serangan budaya impor hasil dari rekonstruksi penguasa media. Beruntunglah negeri ini masih punya TVRI yang mempunyai idealisme tinggi dalam mempertahankan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan Merah Putih sebagai simbol negara Indonesia tercinta.

Namun, harus diakui, hingga kini keberadaan TVRI belum optimal dalam memainkan perannya. Kehadiran TVRI kini justru nyaris dilupakan oleh masyarakat luas. TVRI terlena dengan monopoli siaran era 1980-an. Keberadaan TVRI saat ini kehilangan sinar emasnya. Ketidakmenarikan itu bisa disebabkan oleh kualitas siarannya dan progresivitas acaranya.

Ada model BBC di Inggris. Lembaga penyiaran publik yang dibiayai negara dan dikelola profesional itu berkembang dengan baik. Bahkan menjadi salah satu media yang punya pengaruh di dunia karena informasinya yang bermutu dan tidak serampangan. TVRI bisa mengadaptasi itu sesuai dengan kondisi negeri kita.

*) Sugeng Winarno ; Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.
**) Artikel ini pernah dimuat di harian JAWA POS, 24 Agustus 2012

Random Posts

Loading…

About sugengwin

S1 Ilmu Komunikasi FISIP UMM S2 Media and Information, Curtin University of Technology, Australia
This entry was posted in Tulisan Saya di Media. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Garb (1.5)