Komodifikasi Komedi

Komodifikasi Komedi

Oleh Sugeng Winarno *)

Hasil pantauan media paruh pertama Ramadan, MUI menilai banyak tayangan komedi televisi yang meresahkan. Acara yang dibingkai dalam semarak Ramadan justru menciderai bulan suci ini. Banyak komedi slapstick yang menonjolkan dialog yang melecehkan sesama, merendahkan, memperolok dan mencaci maki.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah memberikan teguran diantaranya kepada enam tayangan khusus Ramadan dan satu acara musik. Ketujuh acara tersebut adalah “Waktunya Kita Sahur” (Trans TV), “Kampung Sahur Bejo” (RCTI), “Sahur Bersama Srimulat” (Indosiar), “Ngabuburit” (Trans TV), “Sabar Tingkat 2” (SCTV), “John Lenong” (Trans7) dan “Inbox” (SCTV).

Komedi Sebagai Komoditas
Komedi menjadi komoditas media yang menggiurkan. Hampir di semua stasiun televisi mempunyai program humor. Komodifikasi menurut Vincent Mosco (1996) adalah menjadikan segala sesuatu bernilai jual. Untuk kepentingan kapitalisme, tidak jarang komodifikasi ini mengorbankan kepentingan publik. Kenyataan menunjukkan banyak pelaku media yang lebih cenderung membela bisnis sehingga banyak acara yang dangkal, kurang manusiawi dan tidak bermutu.
Maraknya program komedi selama Ramadan adalah salah satu bentuk komodifikasi komedi oleh pengelola media. Komedi telah dijual dalam beragam bentuk, mulai komedi panggung, film, komedi situasi, parodi, realityshow, dan talkshow. Genre lawakan yang dominan muncul adalah jenis komedi slapstick yang lebih menonjolkan pelecehan dan kekerasan baik secara verbal maupun non verbal.
Komedi slapstick itu komedi kasar, biasanya ditampilkan dalam bentuk kekerasan fisik misalnya menendang, menjambak dan memukul. Tidak sedikit pula yang berbentuk kekerasan melalui kata-kata kasar, jorok, seronok, umpatan, bentakan, penghinaan, dan merendahkan harga diri. Banyak dialog yang menggunakan asosiasi pada binatang, stigmatisasi, eufimisme dan disfemisme.
Hingga tidak jarang kita saksikan acara komedi bertabur kata-kata seperti: “Setan Lu, Muka Lu Kayak Kebo, Badan Lu Kayak Kingkong, Kambing Lu, Diam Badak, Gembrot Lu, Botak Lu, Bego Lu”. Kata-kata ini sepertinya sepele dan mengundang tawa, tetapi sebenarnya dibalik kata-kata itu menjadi sarana sosialisasi verbal violence.
Banyak negara lain yang melarang kekerasan verbal ini. Federal Communication Commision (FCC) di Amerika Serikat misalnya, telah dengan tegas melarang penggunaan tujuh kata kasar dan jorok. Ketujuh kata-kata tersebut adalah: “Shit, Fuck, Coocksucker, Motherfucker, Piss, Cunt, Tits”. Hal serupa juga dilakukan di Kanada, bahkan tertuang dalam sebuah violence code. Salah satu peraturan itu berisi larangan beragam bentuk kekerasan sebelum jam sembilan malam.
Dalam bisnis televisi, angka rating menjadi patokan keberhasilan. Pada kondisi ini, banyak praktik media yang hanya mengejar rating dan mengabaikan kualitas tayangan. Media selalu mencari celah-celah yang memungkinkan sebuah program dapat meraup penonton berlimpah, termasuk meramu komedi menjadi komoditas. Satu program komedi di salah satu televisi laku keras, maka televisi lain tidak mau kalah dan berlomba membuat acara serupa. Tidak jarang seorang komedian dalam sehari bisa ada di dua atau tiga stasiun televisi yang berbeda.
Televisi sukses membuat acara komedi, terbukti dengan tingginya rating beberapa acara komedi selama Ramadan ini. Dalam konteks ini berarti masyarakat memang menonton program tersebut. Cuma masalahnya, apakah program komedi yang dikonsumsi penonton itu membawa manfaat?
Tidak jarang ketika berhadapan dengan kekuatan media massa termasuk televisi, posisi penonton sangat lemah. Banyak penonton yang tidak mampu menolak isi media. Pemirsa televisi hanya menjadi bulan-bulanan pengelola televisi agar mau mengkonsumsi apa saja yang dijual televisi. Termasuk tanpa sadar pemirsa dibius untuk membeli produk yang diiklankan dalam acara televisi.

Melek Media TV
Antara pengelola televisi sebagai institusi penyedia konten dan posisi masyarakat sebagai konsumen media kondisinya sangat tidak sehat. Pada situasi seperti ini solusi yang bisa ditawarkan adalah pentingnya melek media (media literacy) bagi masyarakat dan para pelaku media. Dengan tingkat melek media yang baik dalam masyarakat maka penonton televisi bisa lebih berdaya dalam memilih, memilah dan menolak acara televisi yang buruk.
James Potter, dalam bukunya yang berjudul “Media Literacy” (Potter, 2001), mengatakan bahwa media Literacy adalah sebuah perspekif yang digunakan secara aktif ketika individu mengakses media dengan tujuan untuk memaknai pesan yang disampaikan oleh media.
Gerakan melek media muncul sebagai bentuk kekhawatiran akan pengaruh media yang lebih berdampak buruk bagi masyarakat. Di samping itu dengan kemampuan melek media masyarakat maka kekuatan pemilik dan pelaku media bisa lebih di kontrol. Sehingga kekuatan antara media dengan masyarakat konsumen media bisa berimbang, tidak ada yang lebih dominan.
Ada beberapa prinsip yang harus dimengerti agar pemahaman terhadap melek media televisi dapat lebih komprehensif. Penonton televisi harus sadar bahwa isi tayangan televisi merupakan hasil konstruksi dan televisi merepresentasikan konstruksi realitas. Bahwa konstruksi televisi mempunyai tujuan komersial, isi pesan media mempunyai muatan nilai dan ideologi. Di samping itu isi televisi tidak terlepas dari muatan sosial dan politik.
Menonton program komedi di televisi ternyata tidak aman. Beragam bentuk pelecehan dan kekerasan dalam tayangan itu setidaknya sebagai indikasi acara itu patut diwaspadai. Untuk itu masyarakat penonton perlu cerdas dan kritis ketika mengkonsumsi media.

Upaya kongrit yang bisa dilakukan masyarakat adalah mematikan televisi atau tidak menonton acara komedi yang buruk. Ini merupakan cara jitu agar tayangan komedi berkualitas jelek akan mati dengan sendirinya. Karena ketika sebuah acara sudah tidak lagi ada penontonnya, maka acara tersebut akan sulit dijual kepada pemasang iklan. Iklan adalah nyawa bagi hidup mati televisi komersial kita.

*) SUGENG WINARNO, MA. Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang, Penggiat Gerakan Media Literacy.
**) Artikel ini pernah ditulis untuk Harian Jawa Pos, 9/8/12.

Random Posts

Loading…

About sugengwin

S1 Ilmu Komunikasi FISIP UMM S2 Media and Information, Curtin University of Technology, Australia
This entry was posted in Tulisan Saya di Media. Bookmark the permalink.

One Response to Komodifikasi Komedi

  1. download mp3 says:

    dapat tambahan ilmu dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Garb (1.5)