Menguatkan RRI Sebagai Radio Publik

Menguatkan RRI Sebagai Radio Publik
Oleh SUGENG WINARNO *

Hari ini, 11 September diperingati sebagai hari lahir Radio Republik Indonesia (RRI). Satu-satunya radio yang menyandang nama negara ini genap berusia 67 tahun, seusia kemerdekaan negeri ini. Sejak kelahirannya, RRI telah banyak bereformasi, melakukan beragam perubahan. Diantara perubahan itu adalah RRI berstatus sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP).
Sesuai amanat UU Penyiaran nomor 32/2002 dan PP nomor 12 tahun 2005, RRI adalah Lembaga Penyiaran Publik yang bersifat independen, netral, tidak komersial dan berfungsi melayani masyarakat, memberikan pelayanan siaran informasi, pelestarian budaya, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol sosial dan menjaga citra positif bangsa di dunia internasional.
Kalau pada masa orde baru, lebih dari 32 tahun RRI memang berperan sebagai corong pemerintah dan sekelompok partai yang sedang berkuasa, namun kini peran serupa hendaknya tidak lagi dimainkan RRI. Dengan demikian, sebagai radio publik, baik di tingkat pusat maupun daerah, semangatnya adalah tidak untuk kepentingan pejabat pemerintah semata.
RRI harus berorientasi pada pelayanan masyarakat, to be the voice of the voiceless artinya menjadi penyalur suara rakyat yang tidak punya akses dalam menyuarakan keluh kesah dan aspirasinya. RRI harus menjadi fasilitator bagi minority group, kelompok termarginalkan dari sisi ekonomi, bahasa, kultur, dan aksesibilitasnya pada media massa. RRI harus bisa menjadi ruang wacana publik yang terbuka (public sphere) yang steril dari intervensi, dominasi dan kooptasi kekuasaan serta tekanan para pemilik modal.

Pendengar Adalah Publik, Bukan Pasar
Esensinya status LPP beda dengan Lembaga Penyiaran Swasta (LPS). Kalau LPS biasanya lebih dominan berorientasi pada kepentingan bisnis. Pembeda dua entitas ini terletak pada bagaimana memperlakukan dan menganggap pendengar (audience). Ada pembeda cara pandang antara audience as public dan audience as market.
RRI harus memandang dengan tegas bahwa pendengar adalah publik, bukan pasar. RRI harus sadar posisi ini sehingga tidak “kegenitan” coba-coba ikut layaknya radio swasta komersial. Kalau RRI tidak ada bedanya dengan penyiaran swasta maka ini bisa menciderai hati publik, karena anggaran RRI pada dasarnya dibiayai oleh publik, masyarakat Indonesia pembayar pajak.
Pendengar RRI adalah publik, warga negara yang harus diberi informasi, pendidikan dan hiburan yang mencerahkan. Pendengar bukanlah pasar potensial untuk selalu dirayu dengan iming-iming iklan komersial yang menjajakan beraneka produk buah dari kapitalisme. RRI memang tidak diharamkan beriklan, namun hendaknya selektif dan porsinya tidak lebih dari 10-15% saja. RRI harus dengan sekuat tenaga bisa membentuk pendengarnya dengan baik, tidak malah menggelincirkan publik pada sajian hedonistik konsumen.
Hal ini berbeda dengan radio komersial, yang ketika menyajikan menu acaranya menempatkan materi siaran hanya sebagai pendukung. Tujuan utamanya adalah membuat konsumen sadar akan produk barang dan jasa yang menyertai dalam sebuah acara tersebut. Karena memang “nyawa” radio swasta adalah dari iklan. Sehingga tidak keliru kalau radio jenis ini senantiasa memposisikan pendengar adalah pasar yang harus dipersuasi guna selalu membeli produk barang dan jasa.

Belajar dari Radio Publik Asing
RRI memang bukan satu-satunya radio publik di dunia. Ada beberapa contoh radio publik dunia yang lebih dulu eksis dan dikelola sangat bagus, yakni British Broadcasting Corporation (BBC) di Inggris, NHK (Nippon Hs Kykai ) Jepang, Canada Broadcasting Corporation (CBC) Canada dan Australia Broadcasting Corporation (ABC) Australia.
Publik Indonesia pun cukup familiar dengan beberapa radio publik asing tersebut. BBC misalnya, radio publik yang berpusat di London ini bersiaran untuk melayani publik Inggris dan dunia dengan beragam siaran dan tayangannya. Radio ABC Australia juga sudah lama akrab di telinga pendengar Indonesia, karena diantara sekian banyak acaranya ada yang disiarkan dalam bahasa Indonesia.
Diantara beberapa media publik asing itu selain bersiaran dalam format radio, juga melakukan diversifikasi produk siarannya dalam bentuk siaran televisi. BBC juga punya kanal televisi yakni BBC One, BBC Two, BBC Three, BBC Four, BBC News, dan kanal untuk anak-anak CBBC Channel dan CBeebies. ABC Australia selain bersiaran berformat radio dan online, juga kanal televisi yakni ABC1, ABC2, ABC Radio National, ABC Local Radio dan beberapa kanal lain yang siaran dengan versi banyak bahasa.
Beberapa radio publik asing telah menggabungkan radio, televisi, online dan telepon genggam dalam menyampaikan informasinya. Dengan difasilitasi internet, banyak media komunikasi saat ini dengan mudah bisa bersinergi satu dengan yang lain. Sinergi radio dengan internet melalui streaming dan siaran online bisa menembus batas wilayah geografis, hingga kawasan blank spot bisa ditembus.
BBC, NHK, CBC dan ABC merupakan media penyiaran publik yang menjunjung tinggi kepentingan publik. Beberapa media penyiaran ini tidak menjadi corong pemerintah yang berkuasa. Konsep pengelolaan media penyiaran publik ini bisa menjauhkan diri dari intervensi oleh eksekutif walaupun memperoleh anggaran dari pemerintah. Eksekutif juga tidak bisa mempunyai wewenang mengintervensi redaksi.
Beberapa radio publik asing sejak awal berdirinya memang sudah didesain sebagai public service broadcasting. Sementara RRI, dalam perjalanannya harus berubah-ubah berganti status mengikuti kebijakan pemimpin politik yang sedang berkuasa. Dari segi kelembagaannya pun RRI telah beberapa kali berganti mulai dari sebagai BUMN dan Perusahaan Jawatan (Perjan), bahkan pernah juga ada wacana penggabungan TVRI dan RRI, menjadikannya sebagai Lembaga Penyiaran Negara (LPN).
RRI memang senantiasa berproses menuju kondisi yang cukup ideal. Yang jelas kehadiran RRI hingga saat ini dinilai masih sangat penting. RRI sebagai pusat informasi bagi masyarakat di seluruh tanah air termasuk daerah perbatasan sangat diperlukan. Terlebih lagi dengan bentuk Indonesia sebagai negara kepulauan, keberadaan RRI diperlukan untuk menjaga hubungan baik diantara seluruh rakyat Indonesia.
Semoga RRI dengan semboyannya “sekali di udara tetap di udara”, yang hari ini genap berusia 67 tahun agar senantiasa mengudara di seluruh penjuru dunia. Tidak sedikit persaingan yang dihadapi, terlebih era kebebasan ini, media tumbuh tanpa batas, baik cetak maupun elektronik. Pemerintah dan masyarakat tentunya perlu peduli pada RRI biar semakin kuat mengemban peran sebagai radio publik. RRI harus mampu memberikan kritik sosial dan ruang publik bagi masyarakat, karena itu menjadi wajah yang sebenarnya dari sebuah radio publik.

*) Sugeng Winarno, MA. Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.
**) Artikel ini pernah ditulis untuk koran Jawa Pos, 10/9/2012

Random Posts

Loading…

About sugengwin

S1 Ilmu Komunikasi FISIP UMM S2 Media and Information, Curtin University of Technology, Australia
This entry was posted in Tulisan Saya di Media. Bookmark the permalink.

2 Responses to Menguatkan RRI Sebagai Radio Publik

  1. udin says:

    Media seperti RRI diharapkan menjadi ruang publik untuk menjembatani civil society dengan negara sehingga kebijakan yang diputuskan dapat dipahami dan dirasakan oleh publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Garb (1.5)