Stop Perbudakan TKW

Stop Perbudakan TKW

Oleh SUGENG WINARNO *)

Heboh iklan “TKI On Sale” di Malaysia beberapa pekan silam kini berulang. Kali ini iklan serupa muncul di Singapura. Selain iklan, para TKW juga diminta duduk berjajar berseragam dan dipajang di mal-mal di Singapura. Layaknya barang dagangan, para TKW ditempatkan di etalase agar dipilih para pembeli. Tentu perilaku ini sangat tidak manusiawi, ini bentuk perbudakan oleh manusia kepada sesama jenisnya.
Dalam iklan juga memuat sistem pembelian TKW dengan cara tidak memberi gaji selama enam bulan. Cara penjualan TKW seperti itu dilakukan oleh banyak agensi di Singapura. Cara ini tentu sangat menyedihkan mengingat semua negara sepakat menghapus segala bentuk perbudakan. Kondisi ini juga membuktikan tidak berdayanya para TKW dan lemahnya perlindungan oleh pemerintah.

Wajah Baru Perbudakan
Menilik sejaran peradaban manusia, perbudakan memang pernah ada di muka bumi ini. Namun apakah perbudakan sekarang sudah sirna? Mungkin kalau yang dimaksud perbudakan seperti pada jaman dahulu memang sudah tidak ada. Dikisahkan ketika pada jaman Nabi Yusuf AS, hukum yang diberlakukan bagi pencuri ialah dengan jalan memperbudaknya.
Sebenarnya penghapusan perbudakan manusia ini sudah lama dilakukan. Revolusi Perancis telah menghapuskan perbudakan di Eropa. Abraham Lincoln melalui Declaration of Human Right (HAM) telah menghapuskan perbudakan di Amerika. Dan dunia sepakat untuk menghapuskan perbudakan. Memang benar semua itu telah terjadi, tetapi kita juga melihat fakta bahwa perbudakan hanya mengalami metamorfosis.
Perbudakan gaya lama memang sudah tidak ada, namun perbudakan gaya baru bermunculan. Diantara wajah perbudakan yang baru itu misalnya telah terjadinya penindasan manusia atas manusia yang lain. Penindasan ini bisa terjadi karena kekuatan dan kekuasaan manusia, sementara yang lain berada diposisi lemah.
Wujud nyata dari bentuk perbudakan itu bisa saja dilakukan oleh atasan kepada bawahan. Para pemimpin yang tidak bisa menjadi pengayom masyarakat, namun justru memperbudak rakyatnya. Faktor kekuatan secara ekonomi dan politik telah menjadi panglima yang bisa membuat manusia berkuasa menindas kaum lainnya yang papa.
Dalam kasus iklan TKW ini jelas bahwa orang tidak lagi menghargai martabat sesama kaumnya. Seorang pembantu rumah tangga yang tugasnya mulia justru dipandang sebagai profesi yang hina dan bisa diobral dengan harga murah. Pembantu bukanlah budak yang bisa diperlakukan dengan seenaknya.
Setiap TKW pasti punya keterampilan khusus yang sudah terlatih. Jadi pembantu rumah tangga misalnya, mereka punya skill dalam mengurus rumah. Ketelatenan, kejujuran, kesabaran dan rasa kasih sayang adalah perilaku yang dijunjung tinggi para pembantu. Sehingga sudah sepantasnya pembantu tidak dipandang sebagai kelas bawah yang bisa diinjak-injak.
TKW memang telah sejak lama dipandang rendah. Tidak saja oleh bangsa Malaysia atau Singapura, bahkan oleh pemimpin dan sesama bangsa Indonesia sendiri. Misalnya, orang Malaysia menyebut TKI dengan nada mengejek dengan sebutan “Indon”. Contoh lain, banyak orang Indonesia yang ketika naik pesawat tidak mau menggunakan maskapai penerbangan tertentu yang sering dipakai TKI.
Penderitaan TKW memang komplit. Disatu sisi TKW telah menyumbang devisa negara yang cukup berarti sehingga keberadaannya masih dianggap penting oleh pemerintah. Namun pada wajahnya yang lain, kasus-kasus yang menimpa TKW terus saja berulang dan pemerintah tidak hadir memberikan perlindungan yang maksimal.

Nilai Tawar Rendah
Saat ini jumlah penduduk Indonesia di Singapura cukup banyak. Sedikitnya terdapat 169.000 WNI berada negeri Singa Merlion itu. Sejumlah 92.000 orang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, 14.000 orang sebagai pelaut, 16.000 orang menjadi pekerja profesional dan sebanyak 21.000 orang sedang menuntut ilmu.
Menangani kasus TKW Indonesia di luar negeri ini memang serba sulit. Bagi pemerintah, memang tidak banyak punya pilihan. Moratorium atau penghentian mungkin saja bisa ditempuh. Namun menghentikan pengiriman TKW juga bukan solusi ketika tidak dibarengi dengan penciptaan lapangan pekerjaan di dalam negeri.
Bagi para TKW juga sebuah pilihan susah. Mereka semua jelas butuh kerja. Sementara peluang kerja tidak cukup tersedia dilingkugan tempat tinggalnya. Maka tidak banyak pilihan lain kecuali mengadu nasib menjadi TKW. Setelah menjadi TKW pun masih dihadapkan pada situasi sulit. Karena banyaknya TKW, maka antara peluang kerja dengan ketersediaan pekerja tidak sebanding.
Kondisi ini samakin diperburuk dengan banyaknya TKI ilegal. Masih banyak TKW yang tanpa dokumen, yang diberangkatkan oleh agen-agen yang tidak bertanggungjawab. Tujuan Malaysia misalnya, dari 6,5 juta TKI, 2,5 juta orang diantaranya di Malaysia dan hanya 1,2 juta yang berdokumen resmi. TKI ilegal ini juga semakin menambah pelik permasalahan.
Kondisi inilah yang menjadikan nilai tawar TKW rendah, sehingga para agen bisa dengan seenaknya memperjualbelikan para TKW seperti layaknya barang dagangan. Para agen penyalur tenaga kerja menempuh segala cara agar para TKW-nya laku. Sehingga seperti yang terjadi di Bukit Timah Plaza Singapura, sebuah agen yang memasang neon box yang bertuliskan “Penjualan PRT Jawa” dengan memajang para TKW dibalik kaca untuk bisa dipilih oleh siapa saja yang berminat.
Ulah nakal para agen TKW yang merendahkan martabat TKW sebagai manusia harus segera di stop. Solusi bisa dengan pembinaan dan aturan yang ketat. Jalan lain yang bisa dipertimbangkan adalah dengan mengambil alih dominasi peran swasta. Pemerintah harus mengupayakan dengan sebaik mungkin sistem pelayanan publik, perekrutan, penempatan dan perlindungan TKW.

*) SUGENG WINARNO, MA.
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang
**) Artikel ini pernah dikirim untuk harian Solopos, 7/11/2012

Random Posts

Loading…

About sugengwin

S1 Ilmu Komunikasi FISIP UMM S2 Media and Information, Curtin University of Technology, Australia
This entry was posted in Tulisan Saya di Media. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Garb (1.5)