Keampuhan Legiun Cyber

Keampuhan Legiun Cyber
Oleh SUGENG WINARNO *)

Perang Israel Vs Palestina sudah meredah dengan disepakati genjatan senjata dari kedua pihak. Peran secara fisik memang telah surut, namun perang masih berlangsung sengit dalam dunia maya, melalui media jejaring sosial. Serangan Israel ke Gaza telah memunculkan legiun cyber (prajurit cyber) dari masyarakat dunia. Hasilnya pun ampuh, Israel telah kalah perang melawan Palestina di dunia maya.
James Noyes, seorang peneliti media jejaring sosial di Hoover Institute mengatakan bahwa Israel harus menerima kenyataan bahwa mereka telah terisolasi dari opini dunia. Akhirnya Kementerian Luar Negeri Israel menyediakan dana lebih dari US$ 15 juta untuk pemakaian situs jejaring sosial.

Perang Gaya Baru
Perkembangan teknologi komunikasi terutama internet memang telah merubah banyak hal. Perang yang semula hanya mengandalkan kekuatan jet tempur, roket, mortir dan kendaraan lapis baja, kini dibarengi serangan opini lewat media sosial seperti twitter, facebook, blog dan youtube. Saat ini, perang telah melahirkan gaya barunya yakni munculnya prajurit cyber.
Berita-berita terkini Gaza mengalir dengan cepat melalui media sosial melengkapi sajian informasi dari mainstream media semacam televisi, radio dan koran. Video serangan membabi buta pasukan Israel juga banyak di publikasikan di youtube. Lembaga kemanusiaan dari beberapa negara juga telah berhasil menggalang dana melalui twitter dan facebook. Para relawan turut “angkat senjata” melalui laptop, ipad, handphone mereka yang terkoneksi internet untuk menyerang Israel.
Peran para legiun cyber ini tidak bisa dianggap remeh. Keberadaan mereka sangat signifikan terutama ketika media konvensional terkendala melaporkan kondisi terkini. Keberadaan informasi yang diunggah para legiun cyber ini sangat ditunggu apalagi ketika serangan roket tempur Israel telah menyerang markas para wartawan di Gaza. Kantor Sky News dan Al Arabia juga dikabarkan telah diserang pasukan Israel. Salah satu alasan penyerangan itu adalah untuk membungkam media agar tidak bisa leluasa memberitakan peperangan tersebut.
Saat ini legiun maya yang sangat aktif memberitakan kondisi detik demi detik situasi peperangan adalah Anonymous Press. Melalui sajian informasi berupa berita kondisi terkini yang dilengkapi foto dan video segera mendapat respon tidak hanya bagi masyarakat di Palestina, namun dari seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia.
Informasi yang disampaikan Anonymous Press terus menggelinding direspon dan disebarluaskan melalui akun-akun pribadi di twitter dan facebook. Informasi bergulir secara snowball, menggelinding semakin besar. Cepat bergulirnya informasi ini juga memicu tingginya simpatisan yang mendukung Palestina. Kondisi inilah yang membuat Israel kelabakan dan tertekan. Hadirnya para legiun maya juga sebagai bukti bahwa bukan hanya Israel yang punya sekutu, tetapi Palestina juga punya sekutu yang datang dari beberapa negara yang tergabung dalam prajurit dunia maya. Dukungan para prajurit maya ini menembus batas wilayah geografis sebuah negara.
Prajurit cyber ini juga datang dari warga Israel sendiri yang umumnya umat Islam. Serangan dari dalam negeri dilakukan oleh kaum muslim Israel yang mengutuk serangan ke Gaza melalui aksi di dunia maya. Tidak sedikit umat muslim Israel menulis Hastag di twitter seperti Save Gaza, Save Palestina dan Pray For Palestina.

Popularitas Media Sosial
Tidak dapat dipungkiri, twitter, facebook, blog dan youtube kini semakin populer. Jenis media jejaring sosial ini memang sangat banyak pemakainya. Pengguna facebook misalnya, kalau diibaratkan sebuah negara, facebook adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar ke tiga dunia setelah India dan China.
Sekarang media sosial memang cukup murah dan mudah diakses. Dengan koneksi internet yang sudah menjamur, cara mendaftar akun twitter dan facebook yang gratis, semakin menjadikan media sosial ini digandrungi banyak orang. Informasi yang bisa diunggah dan diunduh melalui media ini sangat banyak, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu seperti layaknya pada media konvensional.
Popularitas media micro blogging ini juga telah banyak dilirik oleh para politisi dunia. Presiden Barack Obama contohnya, sesaat setelah kemenangannya, dia menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pendukungnya justru lewat twitter bukan melalui jumpa pers resmi. “Ini semua terjadi berkat Anda, Terima kasih,” ujar Obama melalui akun twitter @BarackObama yang mempunyai lebih dari 22 juta followers itu.
Sesaat kemudian Obama juga muncul di twitter foto dirinya memeluk first lady Michelle Obama. “Four more years” demikian tweet Obama merespon hasil penghitungan suara yang menunjukkan keunggulannya atas Mitt Romney. Berselang tiga jam kemudian, Tweet Obama di retweet sebanyak 472.000 kali dan difavoritkan sebanyak 100.000 orang. Tweet Obama bahkan mengungguli Justin Bieber.
Bagi para sukarelawan yang mau menyatakan dukungannya pada Palestina tidak harus angkat senjata pergi ke Gaza, namun bisa dengan ikut perang melalui internet. Bagi warga Indonesia, para simpatisan Hamas, dapat menunjukkan dukungannya dengan ikut menjadi prajurit pada akun @avitallei bovich. Aspirasi dan dukungan juga bisa disalurkan ke akun resmi sayap militer Hamas yang beralamat di @alqassambrigade. Selain melalui dua akun media sosial tersebut, melalui akun-akun pribadi juga telah dijadikan ruang diskusi publik yang terbuka.
Dalam memberitakan konflik Israel Vs Palestina kali ini media mainstream berebut kecepatan dengan media sosial. Kedua jenis media ini hadir saling melengkapi informasi yang dibutuhkan masyarakat. Ratusan jurnalis dari berbagai kantor berita asing telah stanby di Gaza demi menghadirkan liputan yang ekslusif. Sementara itu banyak sukarelawan yang juga turut melaporkan melalui akun-akun pribadi dalam jejaring sosial.
Dukungan para prajurit maya yang terus mengalir memberikan kekuatan Palestina agar tetap bertahan. Perang opini yang dilancarkan para sukarelawan dunia maya ini cukup efektif, terbukti dari banyaknya negara yang bersimpati pada Palestina dan mengutuk Israel.
Kemunculan para legiun cyber merupakan bukti bahwa media sosial mampu menggerakkan dan menggalang dukungan. Lahirnya para prajurit maya juga bisa menjadi social pressure. Semoga pertikaian yang sudah terjadi cukup lama ini segera berakhir dan menemukan jalan damai. Tentunya tidak hanya damai di dunia maya namun juga di dunia nyata.

*) SUGENG WINARNO, MA.
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.
**) Artikel ini pernah ditulis untuk Harian JOGJA, 22/11/2012

Random Posts

Loading…

About sugengwin

S1 Ilmu Komunikasi FISIP UMM S2 Media and Information, Curtin University of Technology, Australia
This entry was posted in Tulisan Saya di Media. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Garb (1.5)