Menimbang Politik Citra Diri

Menimbang Politik Citra Diri
Oleh SUGENG WINARNO *)

Beberapa pekan ini banyak media meliput perilaku “nyleneh” para politisi. Sebut saja “ulah” Dahlan Iskan, Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ketiga pemimpin yang kerap muncul di media dengan action anehnya ini mengundang komentar banyak kalangan. Pertama, ada yang menilai bagus karena itulah idealnya pemimpin, yang harus bertindak nyata, bukan sekedar retorika. Kedua, tidak sedikit orang yang menilai perilaku para politisi itu tidak lebih hanya sebuah pencitraan diri.

Gaya Menteri BUMN Dahlan Iskan memang aneh. Pakai sepatu cats, mengendarai mobil ala Mr.Bean, naik KRL, makan soto pinggir jalan, naik ojek, membersihkan toilet bandara, menyapu Monas, dan menyimpan air minum botol dibalik baju. Perilaku yang dilakukan Dahlan ini mungkin biasa bagi beliau, tetapi hal ini menjadi aneh karena beliau adalah seorang menteri yang biasanya selalu kental dengan keprotokoleran.
Sepak terjang Jokowi dan Ahok juga menjadi pemandangan baru, tidak seperti layaknya para gubernur dan wakil gubernur umumnya. Jokowi mau blusukan, masuk kampung keluar kampung, masuk gang-gang sempit terjun langsung melihat kondisi masyarakat. Demikian halnya dengan Ahok. Terobosannya juga cukup mengejutkan, seperti yang dilakukannya ketika menggelar rapat dengan Dinas PU DKI Jakarta beberapa hari silam. Ahok mendokumentasikan rapat tersebut dan mempublikasikannya di Youtube.

Cara-cara yang ditempuh beberapa politikus ini memang sebuah penyegaran baru. Mereka berani mendobrak protokoler yang kaku dan bisa membuka keterbukaan informasi birokrasi yang selama ini lebih banyak ditutup-tutupi. Dalam UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP) sudah jelas bahwa semua pejabat publik wajib memberikan informasi yang transparan kepada masyarakat luas.
Hampir semua aktivitas Dahlan Iskan, Jokowi dan Ahok selalu diliput oleh media. Wartawan koran, radio, media online dan televisi sering mengikuti kegiatan para politisi tersebut. Alhasil banyak liputan media yang memberitakan aktivitas yang memang mempunyai news values tinggi tersebut. Karena “pemandangan” perilaku tiga pejabat ini tidak umum, maka tidak sedikit orang yang menilai semua ini hanya upaya pencitraan. Upaya membangun kesan baik agar mendapat dukungan.

Lantas bagaimana sebenarnya memilah sebuah perilaku itu merupakan sebuah pencitraan atau sebuah tindakan yang tulus. Ada dua kata kunci yang dekat dengan pencintraan ini. Kata itu adalah ikhlas versus pamrih. Ikhlas bisa dimaknai sebagai menjalankan sesuatu tanpa pamrih, tanpa ada “udang dibalik batu”. Sementara pamrih, adalah sikap yang bermakna negatif, karena ada maksud tersembunyi, bohong, manipulatif, dan rekayasa jahat.

Melihat kenyataan sosok politisi yang tampil di media, tidak mudah memilah dan menilai seseorang itu jujur atau berbohong. Apalagi saat ini, banyak perilaku politisi yang orientasinya pada Pilpres 2014. Perlu waktu yang cukup untuk menilai perilaku seseorang itu pencitraan semata atau benar-benar kerja nyata. Artinya bisa dilihat dari ketika seseorang belum menjabat dan setelah mendapatkan kursi kekuasaan. Karena pada prinsipnya politik pencitraan akan ditinggalkan pelakunya bila meraka sudah mendapat apa yang didambakannya.

Peran media juga sangat penting dalam pencitraan seseorang. Karena media memang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Begitu pentingnya peran media, hingga banyak pemilik media yang terjun ke dunia politik. Cara ini dinilai cukup efektif, karena melalui media yang dimiliki dapat digunakan mendukung pencitraan dan popularitasnya. Pemilik media bisa lebih leluasa membuat dan menyiarkan iklan-iklan pencintraan dirinya.

Menurut Coen Husein (2012) filosofi mendasar dibalik dominasi politik citra ini adalah ide atau gagasan menentukan realitas. Kenyataan adalah hasil dari persepsi yang diproduksi oleh otak, dan karenanya persepsi itulah yang mesti dibentuk pertama kalinya. Dengan dukungan media massa (televisi, koran, radio), iklan, dan kini sosial media, politik pencitraan ini menjadi tujuan yang ingin dicapai oleh setiap partisipan politik.

Cepat atau lambat, cara pencitraan yang hanya memburu popularitas akan ditinggalkan orang. Fondasinya rapuh karena sejatinya dibangun di atas ketidakjujuran. Yang terjadi justru hiper realitas yakni realitas yang berlebihan, bukan yang sesungguhnya. Untungnya, masyarakat sekarang semakin melek politik (political literate). Masyarakat tentu bisa memilah-milah mana politisi yang asli dan yang karbitan. Masyarakat tentu tidak bisa lagi dibohongi dengan iming-iming uang atau sembako.
Rakyat lebih senang dengan politisi yang low profile, tampil apa adanya. Bersikap, santun, dan merakyat yang tidak dibuat-buat. Keseriusannya membela rakyat benar-benar terpancar dari dalam dirinya. Inilah yang dimaksud dengan politik citra diri. Dalam perkembangan teknologi informasi yang luar biasa saat ini, tidak sulit untuk mengetahuinya apa, siapa, dan bagaimana latar belakang seorang politisi.

Politisi yang citra dirinya sudah benar-benar baik di mata masyarakat tidak perlu lagi pencitraan. Citra akan terjadi secara otomatis. Pencitraan itu lebih kokoh karena berdasarkan realitas di lapangan. Sang politisi dikenal karena keberhasilannya membangun masyarakat meski dalam lingkup yang lebih kecil. Bukan karena banyaknya uang atau seberapa sering iklan politik yang muncul di banyak media.
Sosok politisi yang baik dipilih karena prestasi dan reputasinya yang jujur serta bersih, bukan politisi yang mendapatkan jabatan publik dengan cara membeli suara. Modalnya adalah prestasi dan reputasi yang diakui oleh banyak kalangan. Yang penting, seorang politisi harus mempunyai political brand yang unik yang menjadi pembeda dengan yang lain.

Setiap orang sesungguhnya memiliki keunikan pribadi dan karakter yang khas masing-masing sehingga setiap orang, baik politisi maupun bukan, sejatinya dapat membangun political brand-nya sendiri tanpa harus dipoles oleh pencitraan yang palsu. Fenomena kemenangan Jokowi kiranya bisa menjadi tauladan bagi para politisi yang akan berebut kursi kekuasaan.

*) SUGENG WINARNO, MA. Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.
**) Artikel ini pernah ditulis untuk koran SOLOPOS,16/11/2012

Random Posts

Loading…

About sugengwin

S1 Ilmu Komunikasi FISIP UMM S2 Media and Information, Curtin University of Technology, Australia
This entry was posted in Tulisan Saya di Media. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Garb (1.5)